Workshop, SMK N 1 Seputihagung Kembangkan Siswa SMK Berbasis Kawasan Industri

Lampung Tengah -liputanglobal– Teaching factory (pabrik pembelajaran) mulai diterapkan di SMK Lampung Tengah. Salah satunya seperti SMK Negeri 1 Seputih Agung. Dalam memperkuat hal tersebut, perlu adanya kesiapan sumberdaya pendukungnya. Sehingga para siswa dilatih dan didik seperti bekerja di perusahaan nantinya.

Melalui kegiatan “Workshop Pengembangan SMK Berbasis Kawasan Industri/Keunggulan Wilayah Pelaksanaan Kurikulum SMK N 1 Seputihagung Dengan Dunia Industri Tahun 2019”, diharapkan ada perubahan mindset dari guru-guru dalam melaksanakan pembelajaran yang berbasis Teaching Factory sehingga tercipta suasana belajar yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan industri (DU/DI).

“Keberadaan Teaching Factory di sekolah kami terus diperkuat. Hal ini dilakukan paling tidak sekolah sudah mendekati kebutuhan dunia usaha industri. Sehingga program-program yang ada di sekolah, mulai kami jalani. Salah satunya seperti “Pabrik Pembelajaran” atau Teaching Factory. Tahun ini, SMK N 1 Seputihagung juga telah mulai melakukan pembelajaran power point zero atau yang lebih dikenal dengan pembelajaran digital. Sehingga, kedepan bagaimana kita bisa memanfaatkan internet itu untuk menunjang kompetensi anak,” kata Kepala SMK N 1 Seputih Agung Edy Christanto, saat coffe break workshop di Hotel BBC Bandar Jaya.

Menurutnya, berbagai macam dengan langkah yang sangat sederhana mampu membuat mindset siswa berinovatif berwirausaha dengan menggunakan ponsel/handphone misalnya. Sehingga hal itu dapat tercipta peluang usaha yang dapat menghasilkan uang saku tambahan untuk mereka.

“Jadi, gadget (hp) bukan hanya diperuntukan memainkan medsos saja, akan tetapi timbul nilai yang sangat positif dalam hal berwirausaha dengan menghasilkan untuk dirinya sendiri,” kata Edy-sapaan akrab pria yang memiliki hobi badminton ini.

Kata dia, pogram SMK berbasis industri ini dilakukan agar dapat mengetahui sekaligus melihat apa-apa saja yang diperlukan industri di wilayah sekitar. Sehingga hal itu nantinya akan ada penyelarasan kurikulum yang sebenarnya.

Workshop yang digelar sehari penuh dan diikuti puluhan peserta dari guru Produktif dan Kewirausahaan, serta pelaku-pelaku dunia industri atau pengusaha sekitar, dibimbing secara langsung oleh narasumber Dr. Edison Ginting dari Bandung, Jawa Barat.

Dalam pengarahannya, Dr. Edison Ginting, menyampaikan bahwa dalam memperkuat dan bersinergi antara dunia industri dengan dunia pendidikan perlu adanya perubahan mindset. Pola pikir tentang kerjasama industri melalui penyelarasan kurikulum yang sebenarnya seperti apa.

Selain itu, menurutnya para dewan guru pun harus mengerti bahwa yang perlu diselaraskan bukan hanya dunia industri, namun juga menyelaraskan guru dengan pola perubahan perilaku siswa dan pola perilaku kurikulum. Sehingga hal itu dengan sendirinya nanti dapat bersinergi dengan insititusi di luar sekolah, seperti kawasan industri yang ada khususnya di Lamteng.

“Diharapkan dengan adanya kegiatan workshop seperti ini bisa menghasilkan sebuah silabus tentang kerjasama industri, terutama membantu anak dan guru melakukan magang di dunia industri,’ terang narasumber itu.

Dalam teaching factory SMK N 1 Seputih Agung ini nantinya akan diwujudkan corporate culture sesuai yang diterapkan di kalangan industri. Kedepan, mudahan pihak industri diharapkan akan menjadi mitra DUDI yang mendukung langsung kegiatan pembelajaran dan penguatan kompetensi keahlian di dalam Teaching Factory.

Terpisah, Kepala Bidang (Kabid) Dikmen Provinsi Lampung Drs.Teguh Irianto, mengajak SMK sepakat melalui MoU untuk menjadikan siswa untuk bisa lulus dan siap bekerja.

“Selain mendukung pihak Dinas Pendidikan terus mendorong semua SMK untuk melakukan kerjasama dengan dunia industri tidak hanya di wilayah lokal tapi hingga di luar negeri. Sehingga siswa yang sudah lulus mempunyai peluang kerja yang jelas dan luas dengan hasil penyelarasan kurikulum dan kompetensi yang dibutuhkan dunia industri,” ajaknya (Mas Bowo)

author

Penulis: 

Tinggalkan Balasan